RI Kejar Swasembada Bawang Putih, 8 Masalah Ini Jadi Tantangan
Jakarta – RI mengejar swasembada bawang putih. Namun, delapan masalah mulai dari benih, lahan, cuaca hingga biaya produksi masih menjadi tantangan.
Indonesia masih menghadapi pekerjaan besar untuk mewujudkan swasembada bawang putih.
Kepala Pusat BRMP Hortikultura Inti Pertiwi Nashwari mengungkapkan sedikitnya delapan persoalan utama masih menjadi penghambat, mulai dari keterbatasan lahan hingga serangan hama dan penyakit.
Inti mengatakan, pengembangan bawang putih nasional harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Penguatan sistem perbenihan, perluasan areal sentra produksi, peningkatan produktivitas dan daya saing, hingga hilirisasi menjadi bagian penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.
“Yang paling utama adalah penguatan sistem perbenihan, yang kedua bagaimana areal pengembangan sentra, yang ketiga PR kita terkait peningkatan produktivitas, yang keempat daya saing, dan akhirnya kita akan lepas landas menuju swasembada pangan,” ujar Inti.
Berdasarkan proyeksi neraca penyediaan dan penggunaan bawang putih 2025, produksi dalam negeri diperkirakan hanya 55.660 ton, terdiri dari produksi konsumsi 16.143 ton dan produksi rogolan 39.517 ton.
Sementara impor diproyeksikan mencapai 621.157 ton atau sekitar 86,45 persen dari total ketersediaan nasional.
Kondisi tersebut menunjukkan besarnya tantangan untuk meningkatkan produksi lokal.
Bahkan data BPS mencatat luas panen bawang putih pada 2024 hanya sekitar 5.318 hektare, jauh lebih kecil dibandingkan 12.801 hektare pada 2020.
Menurut Inti, masalah pertama adalah keterbatasan lahan yang sesuai.
Pengembangan bawang putih membutuhkan kawasan dengan kondisi agroklimat yang mendukung.
Karena itu, pemerintah perlu mengidentifikasi wilayah potensial sekaligus melakukan pendekatan kepada petani agar pengembangan sentra dapat berjalan.
Masalah kedua adalah tingginya risiko iklim dan cuaca.
Bawang putih membutuhkan kondisi lingkungan yang relatif spesifik sehingga perubahan cuaca dapat memengaruhi pertumbuhan dan produksi.
“Bawang putih ini salah satu komoditas sayuran yang manja. Kebutuhan terhadap cuaca atau iklim itu harus benar-benar dipenuhi. Ada sedikit saja kebutuhan yang tidak dipenuhi, misalnya harusnya sekarang panas tiba-tiba hujan, itu akan memengaruhi produksi,” katanya.
Persoalan ketiga adalah ketersediaan benih bermutu yang belum memadai.
Inti menekankan pentingnya benih sehat, bermutu, tersedia tepat waktu dan dengan harga terjangkau.
Penguatan sistem perbenihan menjadi salah satu fondasi utama dalam strategi peningkatan produksi.
Keempat, produktivitas dan efisiensi budidaya masih perlu ditingkatkan.
Untuk menjawab persoalan tersebut, BRMP Hortikultura mendorong penerapan teknologi budidaya, termasuk teknologi Proliga atau Produksi Lipat Ganda, sekaligus meningkatkan kapasitas petani dan penyuluh.
Kelima, biaya produksi yang masih tinggi membuat bawang putih lokal menghadapi tantangan daya saing ketika berhadapan dengan produk impor.
Efisiensi usaha tani menjadi penting agar peningkatan produksi juga diikuti dengan peningkatan pendapatan petani.
Keenam adalah serangan hama dan penyakit yang masih terjadi dalam budidaya.
Pengendalian organisme pengganggu tanaman menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari upaya meningkatkan produktivitas.
Ketujuh, keterbatasan sarana dan prasarana pascapanen.
Menurut Inti, pengembangan bawang putih tidak boleh berhenti pada kegiatan budidaya dan panen.
Penanganan setelah panen juga menentukan kualitas serta nilai ekonomi produk.
Kedelapan, penguatan hilirisasi dan nilai tambah.
Produk bawang putih perlu dikembangkan tidak hanya sebagai komoditas segar, tetapi juga melalui pengolahan untuk memperpanjang daya simpan dan meningkatkan nilai ekonomi.
Untuk mempercepat pencapaian swasembada, pemerintah juga memperkuat kebijakan pengembangan bawang putih.
Melalui Permentan Nomor 15 Tahun 2026, pemerintah mengubah ketentuan pengembangan komoditas hortikultura strategis, termasuk kewajiban pelaku usaha impor bawang putih menghasilkan produksi dalam negeri paling sedikit 10 persen dari volume penetapan rencana kebutuhan sesuai neraca komoditas.
Inti menegaskan keberhasilan program tersebut membutuhkan sinergi pemerintah, peneliti, petani, penyuluh, pelaku usaha dan mitra lainnya.
“Kita sama-sama ingin produksi meningkat, impornya turun. Yang paling penting juga kita ingin petani-petani bawang putih kita nantinya semakin sejahtera,” ujarnya.
Dengan demikian, target swasembada bawang putih tidak hanya bertumpu pada penambahan luas tanam.
Penguatan benih, teknologi, pembiayaan, kapasitas petani, infrastruktur, pengendalian hama penyakit, pascapanen serta kolaborasi menjadi satu kesatuan strategi untuk membangun produksi bawang putih nasional yang lebih berkelanjutan.